- Back to Home »
- Substansi
Posted by : Unknown
Wednesday, September 25, 2013
Kuawali hari, Senin itu, Senin kedua setelah libur pasca-Idul Fitri, langkahku tidaklah cepat, biasa saja, kuakui, hari itu aku tak melaksanakan Shalat Subuh berjamaah seingatku, aku sibuk dengan hal lain, –tidur.
Hari itu tak seperti sebelumnya, aku berangkat bersama ayahku, menaiki sebuah motor matic dengan kecepatan yang sedikit lambat menyesuaikan diri dengan keadaan jalan yang dapat dibilang memprihatinkan, entah kapan perbaikan jalan akan dilanjutkan.
Macetnya hari itu sebagai hari kepalanya setiap pekan untuk kerja, ya, pasti telat lima menit saja, jalanan sudah tertutup untuk memberikan kelebarannya karena sudah dipadati kendaraan yang berangkat pada jam enam-an.
Setibaku di sekolah, tak langsung kunikmati saat itu untuk bersantai dan bercengkrama dengan leluasa, walaupun sempat tapi tak leluasa, peranku sebagai seorang Ketua Kelas, yang merangkap Ketua IRMA, dan Sekretaris Kelas de facto, dan membuat aku agak pusing menyikapinya.
Hinggaplah sebuah pemikiran dalam benakku, “sudahkah aku melaksanakan tugas sebagaimana substansinya?” . Ya, seorang tua dari Semarang pernah tampil di sebuah saluran televisi swasta nasional mengatakan, kembalikan sesuatu pada substansinya maka hidup Anda akan terjaga.
Kata substansi ini apabila dalam terjemahanku dapat diartikan sebagai inti sebuah hal, hakikat sebuah hal, dan bawaan yang default dari sebuah hal. Kupikir kembali, posisiku sebagai seorang siswa, sudah seharusnya aku belajar dengan tekun, dan lain sebagainya yang pada umumnya sudah mengetahuinya. Posisiku sebagai pimpinan sebuah organisasi, bukanlah menjadi alasanku yang melaksanakan seluruh peran dalam sebuah organisasi, pembagian tugas dan lain-lain dibutuhkan dalam hal ini.
Tetapi suatu hal lainnya dimana usaha melaksanakan sesuatu sebagaimana si substansi ini sulit dilaksanakan, lantas, ku kembali memikirkan, apa yang harus dilakukan apabila dalam sebuah usaha melaksanakan substansi ini apabila unsur lain tidak mendukung.
Kesadaran dalam diri, sangat dibutuhkan karena, kesadaran diri itulah pembangkit kesadaran akan sebuah substansi, substansi dalam bermasyarakat dan substansi dalam berketuhanan, substansi berketuhanan itu paling sederhana dipahami, tapi sangat luas apabila dijelaskan dan apabila dijelaskan akan saling berkaitan antara kedua substansi tersebut.
Jadi, memang benar, kata Prie GS tadi, yang aku sebut seorang tua dari Semarang. “kembalikan sesuatu pada substansinya maka hidup Anda akan terjaga”.
Hari itu tak seperti sebelumnya, aku berangkat bersama ayahku, menaiki sebuah motor matic dengan kecepatan yang sedikit lambat menyesuaikan diri dengan keadaan jalan yang dapat dibilang memprihatinkan, entah kapan perbaikan jalan akan dilanjutkan.
Macetnya hari itu sebagai hari kepalanya setiap pekan untuk kerja, ya, pasti telat lima menit saja, jalanan sudah tertutup untuk memberikan kelebarannya karena sudah dipadati kendaraan yang berangkat pada jam enam-an.
Setibaku di sekolah, tak langsung kunikmati saat itu untuk bersantai dan bercengkrama dengan leluasa, walaupun sempat tapi tak leluasa, peranku sebagai seorang Ketua Kelas, yang merangkap Ketua IRMA, dan Sekretaris Kelas de facto, dan membuat aku agak pusing menyikapinya.
Hinggaplah sebuah pemikiran dalam benakku, “sudahkah aku melaksanakan tugas sebagaimana substansinya?” . Ya, seorang tua dari Semarang pernah tampil di sebuah saluran televisi swasta nasional mengatakan, kembalikan sesuatu pada substansinya maka hidup Anda akan terjaga.
Kata substansi ini apabila dalam terjemahanku dapat diartikan sebagai inti sebuah hal, hakikat sebuah hal, dan bawaan yang default dari sebuah hal. Kupikir kembali, posisiku sebagai seorang siswa, sudah seharusnya aku belajar dengan tekun, dan lain sebagainya yang pada umumnya sudah mengetahuinya. Posisiku sebagai pimpinan sebuah organisasi, bukanlah menjadi alasanku yang melaksanakan seluruh peran dalam sebuah organisasi, pembagian tugas dan lain-lain dibutuhkan dalam hal ini.
Tetapi suatu hal lainnya dimana usaha melaksanakan sesuatu sebagaimana si substansi ini sulit dilaksanakan, lantas, ku kembali memikirkan, apa yang harus dilakukan apabila dalam sebuah usaha melaksanakan substansi ini apabila unsur lain tidak mendukung.
Kesadaran dalam diri, sangat dibutuhkan karena, kesadaran diri itulah pembangkit kesadaran akan sebuah substansi, substansi dalam bermasyarakat dan substansi dalam berketuhanan, substansi berketuhanan itu paling sederhana dipahami, tapi sangat luas apabila dijelaskan dan apabila dijelaskan akan saling berkaitan antara kedua substansi tersebut.
Jadi, memang benar, kata Prie GS tadi, yang aku sebut seorang tua dari Semarang. “kembalikan sesuatu pada substansinya maka hidup Anda akan terjaga”.
Post a Comment